Seperti yang Dulu Lagi

13 05 2012

Suatu pagi yang cerah, ketika sang mentari mulai menyapa dunia. Seorang anak dengan penuh semangat pergi ke sekolah dengan mengayuh sepeda. Khalid begitulah namanya, seorang anak desa yang dikenal tekun dan bersahaja. Namun, pagi itu mungkin ada yag berbeda dari biasanya dimana sinar mentari terasa lebih terik dan adanya kicauan burung yang terdengar lebih keras pertanda hari sudah beranjak siang, sehingga ia segera mempercepat laju sepedanya agar tidak terlambat datang ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, Khalid segera meletakkan sepedanya di parkiran sepeda sebelah timur koperasi sekolah. Dengan perasaan cemas bercampur bingung ia berjalan menuju kelas. Rasa cemas yang ia rasakan semakin bertambah ketika pintu kelas terlihat telah tertutup rapat. Akhirnya ia dengan segenap keberanian yang dimiliki, ia mengetuk pintu kelas tersebut. Beberapa saat kemudian pintu kelas terbukam, tetapi alangkah terkejutnya Khalid ketika ia mengetahui bahwa Pak Edi telah di dalam kelas. Pak Edi dengan wajah yang kurang bersahabat menegurnya dari balik pintu kelas. Tak pelak Khalid pun digelandang menuju kantor. Habislah Khalid saat itu. Di dalam Khalid dimarahi habis-habisan oleh Pak Edi karena ia telah telat sebanyak lima kali dalam seminggu ini. Setelah beberapa lama, dengan rona wajah yang kusut ia diijinkan oleh Pak Edi masuk kelas.

Sesaat kemudian Khalid segera bergegas masuk kelas, walaupun dengan perasaan yang sangat pilu dan malu yang tak tergambarkan. Khalid tetap sabar dan tenang menghadapi ledekan dan gunjingan dari teman-temannya. Waktu pelajaran pun sudah berlalu semua teman-teman sekelas Khalid telah beranjak untuk pulang ke rumah masing-masing. Kecuali Khalid, ia masih tertunduk di bangkunya. Ia sangat kecewa dengan dirinya sendiri. Aku yang waktu itu kebetulan waktu itu mendapat giliran piket, melihat kondisi Khalid timbul rasa kasihan. Kemudian aku menghampiri dan mengajaknya pulang.

Dalam perjalanan pulang itulah Khalid bercerita kepadaku tentang sebab kenapa ia sering datang terlambat ke sekolah. Khalid mengatakan bahwa seandainya ia tidak membantu ibunya berjualan di pasar maka ia akan selalu datang tepat waktu ke sekolah. Namun ia tak tega kepada ibunya yang sudah mulai lanjut usia dan sakit-sakitan. Selain itu, selama ini hasil dari berjuakan di pasar inilah yang menjadi suumber biaya untuk sekolah Khalid. Aku sangat terharu dengan cerita Khalid. Setelah mendengar keluh kesah Khalid terhadap masalah yang ia alami, aku mencoba untuk memberikan solusi dari masalah yang ia hadapi. Aku menyarankan agar Khalid menggunakan catatan dan penjadwalan yang terstruktur dalam melakukan pengelolaan waktu.Tak terasa kami telah sampai di perempatan jalan dimana kami harus berpisah.

Sehari kemudian, aku bertemu Khalid di sekolah seperti hari-hari biasanya. Namun kali ini, Khalid sudah tidak telat lagi untuk masuk sekolah. Khalid mengucapkan terima kasih kepadaku karena berkat ia menerapkan saran yang aku berikan. Ia menjadi lebih disiplin lagi dan dapat datang sekolah tepat waktu.

Hari demi haripun berlalu, Khalid semalin mampu untuk mengatur dan membagi waktunya dengan cermat. Dengan demikian Khalid mampu mengoptimalkan setiap kesempatan yang ia miliki. Ia dapat membagi waktu yang sinergis antara waktu untuk membantu ibunya maupun waktu untuk belajar. Khalid semakin berkembang menjadi remaja yang bertanggungjawab dan cakap dalam banyak hal. Waktu tiga tahun berlalu begitu cepat, hingga akhirnya aku dan Khalid harus berpisah karena kami melanjutkan ke sekolah yang berbeda.

Mulai saat itu kami menjadi jarang bertemu maupun berbicang-bincang bersama seperti dahulu.

Namun alangkh terkejutnya diriku, ketika beberapa bulan yang lalu aku berkunjung ke rumah Khalid. Tetapi, Khalid tidak ada di rumah. Di sana aku hanya bertemu dengan ibunya. Melalui penuturan ibunya Khalid inilah aku mengetahui bahwa telah banyak perubahan yang terjadi pada diri Khalid semenjak ia berbeda sekolah denganku. Menurut ibunya, Khalid sekarang sudah sangat berbeda dengan Khalid yang kukenal dahulu. Pergaulan Khalid cenderung dengan anak-anak yang berkelakuan negatif. Bahkan, ia pernah terlibat dalam menjadi salah satu anggota geng yang ada di sekolahnya. Sehingga ia sempat akan dikeluarkan dari sekolahnya tersebut. Lantaran perilaku Khalid yang sering membolos dan terlibat dalam perkelahian antar sesama teman sekolahnya.

Di akhirnya ceritanya tersebut, ibunya Khalid mengharapkan agar aku mau sering-sering bermain ke rumah Khalid. Ibunya Khalid sangat berharap agar anaknya dapat berubah dan insyaf. Dalam hati kecilku yang paling dalam aku juga mendoakan agar Khalid dapat kembali seperti dulu lagi.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: