Ritualisme Sebagai Pondasi Keberhasilan

4 11 2011


Kejadian ini berawal ketika saya masih duduk di bangku SMP tepatnya pada bulan Maret 2005. Saya tinggal di desa Salak Kembang, Kecamatan Kalidawir, Tulungagung. Sebuah daerah yang terletak di bagian selatan Jawa Timur. Tumbuh dari latar belakang orang tua petani membuat saya sedikit banyak mengerti metode pertanian klasik dalam bercocock tanam. Tanpa saya sadari banyak nilai yang sebenarnya terilhami dari proses bercocok tanam klasik tersebut. Proses pendidikan yang dilakukan secara langsung di lapangan membuat nilai mudah tertanamkan dan akan melekat dalam lubuk jiwa sehingga membentuk karakter serta kepribadian. Realita kontradiksi proses pendidikan dalam hidup terjadi ketika saya mengenyam pendidikan bangku sekolah selama 12 tahun. Pendidikan sekolah secara terkesan menjauhkan kita dari karakter yang kita miliki sebenarnya. Walaupun di satu sisi memang kebeardaan sekolah masih diperlukan dalam proses pencerdasan bangsa.
Kembali pada kejadian bulan Maret 2005 yaitu ketika saya duduk di kelas 3 SMP. Pada bulan tersebut saya sempat mengenyam pendidikan pondok pesantren kilat selama satu bulan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Kebetulan waktu itu sekolah memberikan kesempatan ke beberapa anggota OSIS untuk berpartisipasi dalam program pendidikan di pondok pesantren Al-Fatah Tulungagung. Saat itu kebetulan saya menjabat salah satu staf di OSIS dan terpilih menjadi salah satu yang mengikuti pendidikan di pondok pesantren tersebut. Selama proses pendidikan di pesantren Al-Fatah saya dan beberapa teman anggota OSIS mendapatkan dispensasi untuk tidak mengikuti proses pendidikan formal di sekolah selama satu bulan. Dalam kurun waktu satu bulan tersebut banyak nilai dan adab baru yang saya kenal. Selain itu saya juga merasakan budaya dan nuansa yang ada dalam sebuah lembaga pendidikan non formal yaitu pondok pesantren. Ada banyak perbedaan yang saya temui ketika saya menimba ilmu pengetahuan di pondok pesantren tersebut dengan pendidikan formal yang berada di sekolahan.
Pondok pesantren sebagai institusi pendidikan non formal yang independen terbukti mampu bertahan diantara gelombang globalisasi dan modernisasi zaman. Sampai saat ini tidak ada yang meragukan peranan pondok pesantren untuk sumbangsihnya dalam proses penyebaran Islam di Indonesia. Pendidikan yang berazaskan Islam diilhami adanya penjagaan nilai secara konsekuen secara turun-temurun merupakan rahasia dibalik eksisitensi pondok pesantren hingga saat ini.
Perlu proses untuk beradaptasi dengan lingkungan pondok yang sepenuhnya sedikit berbeda dengan lingkungan pendidikan formal pada umumnya. Penanaman nilai dilakukan lebih mengakar dengan budaya ritualisme. Umumnya Pondok Pesantren mengedepankan nilai Istiqomah(ritualisme) dalam mewujudkan keberhasilan. Saya menjumpai beberapa fenomena ritulisme untuk mematuhi setiap perkataan dan perbuatan yang diajarkan oleh Kyai atau ustadz.
Dalam budaya kehidupan pondok pesantren posisi kyai dan ustadz memiliki peranan ganda yaitu sebagai fungsi pendidik dan pengayom santri. Pada posisi inilah saya merasakan bahwa transformasi dan revolusi hidup dimulai. Berawal dari keikutsertaan saya dalam kegiatan tahsin al quran yang dibina langsung tiap hari oleh ustadz yang notabene merupakan seorang hafidz. Babak baru dalam roda perjalanan hidup ini saya alami diilhami dari proses ketekunan dalam mempelajari al quran. Saya sangat kecewa pada diri saya sendiri karena masih rendahnya kemampuan diri saya dalam membaca Al-Qur’an. Saya masih sering melakukan kesalahan dalam hal makhraj dan tadwid selama membaca Al-Qur’an.
Selama satu bulan proses pendidikan pondok pesantren Al-Fatah ini saya mengikuti program membedah beberapa kitab tentang fiqih, aqidah dan akhlak serta tahsin-tahfidz. Namun diantara seluruh program tersebut saya lebih intens mengikuti program tahsin-tahfidz dibandingkan proses pengajian kitab. Pilihan ini saya ambil karena kemampuan dan pengetahuan saya dalam membaca dan memahami Al-Qur’an masih terbatas. Oleh karena itu momen ramdhan dan menimba ilmu di pondok pesantren Al-Fatah saya menfaatkan untuk meng-upgrade dan memperbaiki bacaan saya ketika membaca Al-Qur’an. Materi tahsin-tahfidz ini diselenggarakan dua kali sehari yaitu pagi setelah sholat shubuh dan sore hari sekitar jam 15.00. Antara kedua sesi tersebut memiliki perbedaan, sesi pagi diperuntukan untuk para santri yang sudah level senior yang pada umumnya merupakan calon hafidz. Sedangkan pada sore hari peserta tahsin-tahfidz kebanyakan berasal dari santri pemula yang pada umumnya bacaannya masih belum fasih.
Seiring berjalannya proses tahsin-tahfidz yang rutin setiap sore akhirnya kemampua saya dalam membaca Al-quran menjadi lebih fasih. Setelah menjalankan rutinitas selama satu bulan tersebut saya mulai merasakan efek samping yang ditimbulkan akibat proses tahsin-tahfidz. Hari-hari pun terasa hampa ketika saya belum melafalkan beberapa ayat suci Al-qur’an. Saya selalu merasakan ada sesuatu yang hilang ketika saya belum membaca Al-qur’an. Ada hikmah tersendiri ketika saya melantunkan beberapa ayat suci dari Al-quran. Sentuan kedamaian jiwa terasa sangat merasuk dalam hati samubari. Derap langkah kehidupan saya menjadi lebih terkontrol dan memiliki arah yang pasti. Visi dan misi hidup yang saya miliki juga terilhami dari proses pemahaman konteks Al-qur’an. Saya sadar sebagai individu yang sebelumnya biasa-biasa saja akhirnya dapat berubah dan bertranformasi menjadi manusia yang seutuhnya. Sungguh nikmat yang luar biasa bahwa ritualisme pondok ternyata mampu memberikan sentuhan tersendiri kepada perjalanan hidup saya. Meskipun hanya satu bulan menjalani program tahsin-tahfidz di podok pesantren Al-Fatah kehidupan saya mengalami revolusi frontal.
Ritualisme memahami dan menelaah ayat-ayat dalam Al-qur’an yang berawal dari proses pendidikan pondok pesantern Al-Fatah memberikan dampak besar pada karakter dan kepribadian. Pengelolaan waktu dan energi secara efektif dan efisien untuk berkontribusi serta memperbaiki diri senantiasa melekat sebagai budaya yang tidak terpisahkan. Saya sadar betapa besarnya energi dan pengaruh dari Al-qur’an untuk memberikan pencerahan dan bimbingan kepada hambanya yang teguh menelaah dan mempelajarinya. Pembelajaran dan nilai dari Al-qur’an akan selalu menginspirasi ketika kita berupa secara konsisten menjalani proses tersebut. Ritualisme tahsin dan tahfidz mutlak menjadi jawaban apabila kita mendambakan jiwa yang senantiasa memiliki idealisme dan gagasan untuk melakukan perbaikan. Proses perbaikan tersebut akan berdampak secara signifikan ketika generasi muda telah terbentuk karakter dan integritas. Oleh karena itu maka nilai Al-qur’an hanya akan selalu hidup ketika proses pengkaderan generasi penerus senatiasa diilhami dan bernafaskan ajaran dalam Al-qur’an.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: