Pemimpin Idealis

4 11 2011


Nama saya Ahmad Hadi Mubarok, saya berasal dari daerah yang terkenal dengan tambang mamer yaitu Tulungagung, tepatnya di desa Salak Kembang, Kalidawir. Saya dilahirkan pada 18 September 1988 di Tulungagung, Jawa Timur. Saya mengawali jenjang pendidikan di M I Darul Ulum Salak Kembang, kemudian saya melanjutkan ke MTs Negeri Tunggangri. Setelah menyelesaikan pendidikan di MTs Negeri Tunggangri saya melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Boyolangu, Tulungagung. Saat ini saya tercatat sebagai salah satu mahasiswa S1 Teknik Industri ITS Surabaya angkatan 2008. Saya adalah pribadi yang memiliki ciri khas sederhana dan berkarater kuat serta memilki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai hal.
Membahas tentang kepemimpinan tidak pernah lepas dari gaya kepemimpinan dan budaya untuk memimpin suatu organisasi. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan tersendiri dan budaya serta paradigma yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Dalam sejarah dapat kita ketahui bagaimana karakteristik suatu pemimpin apakah cenderung sosialis, liberalis, otoriter maupun diktator. Sebagian besar pemimpin yang dikenang dalam sejarah hanyalah pemimpin-pemimpin yang mempunyai kharisma. Pemimpin yang berkharisma dapat dikatakan sebagai arsitek dari peradaban pada saat ia berkuasa. Pemimpin yang berkharisma pasti memiliki mimpi-mimpi besar untuk mewujudkan oraganisasi yang ia pimpin.
Selama 14 tahun lebih saya mengenyam pendidikan hingga saat ini, saya sudah cukup banyak mengenal sosok pemimpin baik yang terkenal dengan kebijakan yang mensejahterakan maupun menyengsarakan rakyat yang ia pimpin. Sejak di M I Darul Ulum saya tertarik sekali membaca sejarah yang menjelaskan kepemimpinan mulai dari periode kerajaan yang aristokrat hingga moderat maupun periode negara liberalis, sosialis, kapitalis, fasis hingga demokratis. Apabila saya cermati pemimpin pada suatu masa adalah sosok yang mampu mengubah dan memperbarui kondisi yang ada disekitarnya baik melalui proses revolusi maupun reformasi. Pemimpin-pemimpin yang tercatat dalam sejarah peradaban di dunia pasti telah menjalani proses kaderisasi yang terstruktur dan berkelanjutan sehingga mampu menjadi pribadi yang kuat dan berjiwa visioner dalam berbagai kondisi yang ia hadapi.
Keberadaan sosok pemimpin dalam setiap organisasi memiliki kapasitas yang besar dalam menentukan arah kebijakan serta orientasi pengembangan organisasi yang dipimpin. Pemimpin harus mampu mengintegralistikan seluruh elemen yang ada dibawahnya dan mampu menempatkan diri secara strategis dalam berbagai kondisi. Menjadi pemimpin bukanlah suatu beban tapi merupakan suatu tanggung jawab serta amanah yang harus dijalankan yang hanya dapat dijalankan oleh orang-orang tertentu saja.
Sampai usia saya 21 tahun ini saya telah menjalani proses pendidikan yang secara tidak langsung juga memberikan warna gaya kepemimpinan yang saya terapkan. Gaya kepemimpinan tersebut mulai terbentuk dari lingkup keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang saya kenal. Penanaman jiwa pemimpin mulai diberikan melalui aktivitas-aktivitas keseharian. Proses pembentukan karakter pemimipin selanjutnya terjadi ketika saya mulai mengenyam bangku sekolah. Proses tersebut semakin terbentuk ketika saya sering terpilih menjadi ketua kelas. Melalui posisi ketua kelas ini saya selalu berupaya memberikan keteladanan kepada teman-teman saya baik dalam bidang soft skill maupun akademik. Kebetulan semasa masih sekolah di M I Darul Ulum prestasi akademis saya cukup bagus.
Proses pembentukan karakter selanjutnya adalah ketika saya di MTs Negeri Tunggangri, pada saat kelas dua saya sempat diamanahi posisi dalm OSIS. Kondisi saat saya menjabat sebagai pengurus OSIS saat itu benar-benar tidak ideal baik secara internal maupun eksternal. Kondisi internal OSIS yang rapuh dan cenderung adanya dualisme kepemimpinan dalam organisasi. Secaara eksternal OSIS hanyalah representasi dari boneka birokrat sekolah sehingga OSIS tidak memiliki posisi yang independen. Jiwa organisasi saya asah lagi ketika saya kuliah. Tantangan utama yang dihadapi dalam berorganisasi selama menjadi mahasiswa adalah keikhlasan dan konsistensi terhadap idealisme yang telah dianut dengan dihadapkan permasalahan baik dalam urusan akademik maupun organisasi dengan beban kerja organisasi yang relatif berat. Menghadapi fenomena tersebut saya berusaha sebisa mungkin untuk memberikan perhatian yang proporsional baik pada urusan akademik dan organisasi. Kunci utama dalam menjalankan organisasi terletak pada kemampuan kita untuk mengelola waktu yang kita miliki secara optimal.
Pada tahun 2012 nanti saya akan lulus kuliah tepat ketika usia saya 23 tahun. Saya berencana memulai karier profesional saya di perusahaan GMF Aeroasia. Kemudian saya ingin melanjutkan pendidikan S2 di Jepang pada usia 26 tahun. Selanjutnya merintis usaha mebel di Tulungagung pada usia 29 tahun. Pada usia 35 tahun ingin mendirikan perusahaan dengan cakupan bidang usaha pertanian, energi, kerajinan dan mebel. Pada usia 41 tahun saya akan mencalonkan diri sebagai bupati Tulungagung. Selanjutnya pada usia 47 tahun mendirikan yayasan pendidikan yang memberikan beasiswa bagi putra-putri Tulungagung yang berprestasi tetapi kurang mampu dalam hal ekonomi untuk dapat menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana. Pada akhir usia nanti saya berencana menghibahkan 25% dari kekayaan saya untuk mendirikan lembaga riset tentang sumber daya alam Tulungagung.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: