“7-Valentine’s Day”

4 11 2011


Makna Harfiah
Pembahasan mengenai hari Valentine memang selalu menghasilkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Memang cukup aneh fenomena tahunan yang muncul setiap tanggal 14 Februari tetapi selalu memberikan arti tersendiri bagi golongan tertentu. Tanggal 14 Februari memiliki arti tersendiri bagi kaum muda-mudi.
Pada tanggal 14 Februari sering kali kita temukan pernak-pernik dengan warna merah muda dan pembagian coklat. Fenomena ini pada dasarnya merupakan fenomena yang wajar apabila tidak terlalu dibesarkan-besarkan oleh media massa. Hari Valentine identik dengan makna hari kasih sayang. Apabila kita cermati secara mendalam keberadaan hari Valentine sendiri sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah apabila dimaknai secara dewasa dan moderat. Permasalahan mengenai hari Valentine baru muncul ketika adanya efek domino sebagai dampak dari prosesi perayaan hari Valentine. Hari Valentine merupakan kebudayaan yang diadopsi dari kebudayaan barat.
Hari Valentine yang dianggap sebagai hari kasih sayang sering kali dimaknai secara berbeda bagi kaum muda. Tidak akan menjadi masalah jika hal tersebut dirayakan oleh golongan tertentu saja secara proporsional. Namun akan menjadi dilema tersendiri ketika hari Valentine ini dimaknai secara berlebihan. Pada beberapa negara bahkan ada pula yang berupaya menciptakan suatu budaya yang tentunya sangat berlebihan ketika perayaan hari Valentine. Salah satunya adanya budaya ciuman masal di Taiwan. Ciuman sebagai ekspresi luapan rasa kasih sayang bagi sebagian masyarakat merupakan seuatu tindakan yang berlebihan dan bertentangan dengan norma kehidupan masyarakat.
Di Indonesia keberadaan hari Valentine juga tidak jauh berbeda dengan dibeberapa negara di dunia. Esensi dari hari Valentine sendiri telah mengalami pergeseran dari yang seharusnya. Hari Valentine seharusnya disikapi oleh para pemuda secara wajar dan dewasa. Banyak sekali kesalahan persepsi dari para pemuda dalam memaknai hari Valentine dimana banyak kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat dan terkesan hura-hura. Budaya hedonisme sangat akrab dengan perayaan hari Valentine. Banyak sekali aktivitas yang sering bertentangan dengan norma sosial kemasyarakatan misalnya acara berpesta, hura-hura bahkan adapula yang terjadi seks bebas sebagai ekspresi untuk membuktikan rasa kasih sayang.
Indonesia dalam kapasitasnya sebagai negara muslim terbesar di dunia seharusnya mampu menjadi panutan dalam menyikapi fenomena hari Valentine. Namun fakta yang ada justru Indonesia malah terlarut dalam alur euforia hari Valentine. Sebagian besar masyarakat malah memanfaatkan momen hari Valentine untuk mendapatkan keuntungan finansial. Bahkan yang sedikit ironis dan mengherankan adalah adanya kenyataan bahwa para pemuda dan pemudi muslim ikut serta merayakan kebudayaan hari Valentine. Kebudayaan perayaan hari Valentine pada hakikaynya dapat mengakibatkan ancaman secara nyata bagi keberlangsungan aqidah seorang muslim. Bahkan MUI sendiri telah memberikan fatwa haram pada perayaan hari Valentine. Fatwa tersebut seharusnya menjadi pijakan bagi kaum muslim untuk menentukan sikap terhadapa keberadaan hari Valentine bagi umat muslim di Indonesia. Pemerintah juga harus mampu menunjukan sikap moderatnya yakni dengan memberikan sikap toleran terhadap perayaan hari Valentine tetapi juga tetap berupaya menjaga koridor agar tidak mengganggu kaidah-kaidah ajaran Islam di Indonesia. Penyikapan ini juga harus diimbangi dengan peran serta masyarakat untuk secara arif dan bijaksana dalam bertindak dan bersikap terhadap peringatan hari Valentine.

Tinjauan Historis
Pada dasarnya belum ada bukti secara pasti tentang asal usul budaya hari Valentine. Studi literature masih belum dapat menarik benang merah mengenai sejarah hari Valentine yang hingga saat ini para ahli juga masih berbeda pendapat. Ada banyak versi tentang asal perayaan Valentine ini. Yang paling populer adalah kisah Valentinus (St. Valentine) yang diyakini hidup pada masa Claudius II yang kemudian ajal pada tanggal 14 Februari 269 M, namun ini pun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidak mengandung silang pendapat adalah kalau kita menilik secara lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (pemujaan dewa-dewi) Romawi kuno.
Waktu itu ada sebuah perayaan yang dikenal sebagai Lupercalia, di dalamnya terdapat rangkaian upacara penyucian di masa Romawi kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish) Juno Februata. Pada hari itu, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangan selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada tanggal 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari golongan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut (mencambuk) orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena dianggap lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. Ketika agama Katholik memasuki Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Nasrani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastur. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Constantinus dan Paus Gregorius I (lihat The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Kemudian agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Nasrani, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat The World Book Encyclopedia, 1988). Tentang siapakah sesungguhny St. Valentine ini – seperti telah disinggung di atas – sejarawan masih berbeda pendapat.
Pada saat itu, sekurang-kurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada tanggal 14 Februari. Diantaranya ialah kisah yang menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, tetapi tindakan kaisar itu mendapatkan tantangan dari St. Valentine yang secara diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga dia pun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M.
Kisahnya bermula dari raja Claudius II (268-270 M) yang mempunyai kebijakan melarang bala tentaranya untuk menikah. Karena, bagi Claudius II, dengan tidak menikah, para prajurit akan menjadi agresif dan siaga dalam berperang. Kebijakan ini mendapat perlawanan dari Santo Valentine dan Santo Marius dengan melakukan perkawinan secara diam-diam. Akhirnya, perilaku kedua Santo tersebut diketahui oleh raja Claudius II, kemudian memberi hukuman mati kepada Valentine dan Marius. Akhirnya, kematian kedua “pejuang cinta” tersebut diresmikan oleh Paus Galasius pada 14 Pebruari 469 M sebagai hari Valentine. Jika demikian, maka sangat jelas, bahwa perayaan Valentine bagi umat Islam sangat bermasalah, mengingat persoalan teologis merupakan doktrin ajaran suatu agama yang sudah berada dalam ranah “hitam-putih” dan tidak mempunyai ruang untuk dinegosiasikan.

Kenyataan Terkini
Yang patut dicermati oleh kita semua adalah adanya kesan bahwa perayaan hari Valentine belakangan ini cenderung bergeser jauh dari nilai-nilai dan tujuan dari Valentine masa-masa silam. Perayaan Valentine sekarang ini terkesan seolah telah disalah tafsirkan dan menjurus ke perbuatan amoral meskipun sebagiannya masih terbatas pada kegiatan-kegiatan yang belum dikategorikan melanggar norma-norma moral.
Apabila dalam merayakan Valentine menjurus ke perbuatan amoral dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama atau adat istiadat apalagi menjustifikasi (membenarkan) perbuatan amoral dengan dalih Valentine akan menjadi masalah dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu bagi mereka yang merayakan atau menikmati Valentine supaya lebih berhati-hati agar tidak terjerumus kepada perbuatan amoral. Ingat perayaan hari Valentine berdasarkan sejarah dan pengertiannya tidak lebih dari sekedar sarana
penyampaian perhatian rasa kasih sayang dalam perspektif budaya, kepercayaan dan pandangan hidup masyarakat tertentu Eropa yang kemudian hari menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Relevansi dengan Sosial Kemasyarakatan
Ketidak-tegasan sekaligus kegamangan dalam menyikapi Valentine akan menyebabkan beberapa gejala pemikiran negatif dalam masyarakat diantaranya: Pertama, adanya pertentangan yang sangat substantif. Pertentangan tersebut berusaha memisahkan antara makna Valentine sesuai makna dasar sejarah Valentine itu sendiri. Ternyata di dalam Valentine sendiri tersirat makna positif seperti memberikan kado, saling berbagi cerita dan pengalaman pribadi atau reuni teman/sahabat lama sesuai dengan makna dasar Valentine. Selain itu ada pula anggapan perayaan Valentine yang minimal dapat ditolerir bila dilakukan dengan bertukar kado sebagai tanda perhatian terhadap kawan spesial atau sahabat, dengan kado yang sederhana, dirayakan ditempat terbuka, tidak ditempat tertutup yang memungkinkan dapat berbuat maksiat, memilih tempat yang sederhana, tidak mengganggu orang lain, tidak berfoya-foya, tidak merayakan dengan waktu yang tidak terbatas dan tentu saja berpakaian sopan sesuai dengan adat istiadat dan budaya setempat.
Dalam uraian di atas, terkesan bahwa semua perilaku tadi merupakan suatu perbuatan positif. Persoalan kemudian adalah jika perilaku tadi tidak dalam ruang waktu Valentine, mungkin masih diperdebatkan. Akan tetapi, jika dalam ruang perayaan yang masih berembelkan Valentine, maka disitulah letak persoalannya. Karena bagaimanapun, penamaan Valentine sangat kental dengan misi dan nilai agama Kristiani, bahkan termasuk persoalan teologis Kristen. Hal ini dapat dilihat dari asal sejarah lahirnya perayaan Valentine.

Pandangan Muslim terhadap Valentine
Dalam pandangan Islam secara jelas adanya larangan perayaan hari Valentine atau semacamnya sebagaimana hal tersebut telah disebutkan dalam Al-Quran:
Al Quran : (25) Al Furqaan : Ayat 52 :Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar. (QS. 25:52)
Al Quran : (76) Al Insaan : Ayat 24:Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (QS. 76:24)
Al Quran : (68) Al Qalam : Ayat 8:Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). (QS. 68:8)
Al Quran : (17) Al Israa’ : Ayat 36:Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. 17:36)
Al Quran : (6) Al An’aam : Ayat 153: dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. 6:153).
Berdasarkan rujukan pada keteranagan dalam Al Quran sudah sangat jelas bahwa mengikuti sesuatu yang tak jelas hukumnya dan manfaatnya itu tak diperbolehkan. Allah melarang perayaan hal-hal seperti itu tentu saja agar umat-umatnya tak terperosok kedalam jurang kenistaan.Valentine tak mempunyai manfaat sedikitpun,yang didapat hanyalah kebahagian semu yang akan menjerumuskan kita ke azab Allah.

Budaya Valentine
Budaya Valentine yang pada dasarnya merupakan suatu luapan ekspresi jiwa muda yang bergelora. Pemuda umumnya belum menyadari bahwa agama telah memberikan tuntunan dan batasan sejauh mana ia diperbolehkan untuk mengikuti budaya tertentu termasuk dalam merayakan Valentine.
Apabila dikaji dari sisi agama sudah jelas bahwa kebudayaan valentine tidak sesuai dengan kaidah keislaman yang ada. Seharusnya pemuda dan pemudi islam harus lebih berhati-hati lagi dalam bertindak agar mereka tetap menjaga kaidah ajaran Islam yang mereka miliki. Ajaran Islam secara jelas menenunjukan sebagai ajaran dengan kemuliaan dan keagungan manusia. Agama Islam telah menunjukan bahwa manusia itu adalah sebaik-sebaiknya ciptaan. Oleh karena itu adalah suatu yang wajar jika kita senantiasa berupaya untuk menjaga kemuliaan derajat manusia melalui seruan untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan yang jelek. Sudah tidak sepatutnya manusia malah berkutat pada hal-hal yang justru dapat merendahkan dirinya sendiri.

Bahaya laten Valentine
Ada banyak dampak negatif yang potensial muncul dari perayaan hari Valentine:
1. Valentine’s day merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya dalam syari’at Islam.
2. Merayakan Valentine’s day dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para shalafush shalih (para pendahulu kita dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in) – semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak hal melakukan hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan gemar ikut-ikutan.
3. Di antara dampak buruk lain bagi orang yang ikut serta merayakan Valentine’s day adalah ikut mempopulerkn ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam.
4. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan merayakan Valentine’s day berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung, dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at sholatnya telah membaca ayat (artinya): “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)
Oleh karena itu seharusnya kita senantiasa waspada terhadap berbagai bentuk godaan syaitan salah satunya makna negatif dari budaya Valentine. Seharusnya saat ini kita fokus kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mu’min dan dijauhkan dari jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri justru menempuh jalan sesat itu dengan sukarela dan senang hati. hendaklah kita segera bertaubat mencari jalan yang benar di zaman yang sudah berada di ujung peradaban ini. Sesungguhnya Allah memudahkan hambanya untuk menjadi umutnya yang taat apabila kita mau berusaha.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: