TUGAS MAKALAH AGAMA “ETIKA MORAL DAN AKHLAK”

4 11 2011


OLEH:

1. Vicky Kurniawan (2508100006)
2. Novas Agita (2508100033)
3. Utario Esna Putra (2508100048)
4. A.Hadi Mubarok (2508100059)
5. Ryan Zerniansyah (1508100082)

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sejarah Agama menunjukkan bahwa kebahagiaan yang ingin dicapai dengan menjalankan syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang baik. Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesaan Tuhan, ibadah yang dilakukan hanya sebagai formalitas belaka, muamalah yang hanya merupakan peraturan yang tertuang dalam kitab saja, semua itu bukanlah merupakan jaminan untuk tercapainya kebahagiaan tersebut.
Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadap-Nya adalah pangkalan yang menetukan corak hidup manusia. Akhlak, atau moral, atau susila adalah pola tindakan yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan. Hidup susila dan tiap-tiap perbuatan susila adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak, sebaliknya hidup yang tidak bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah menentang kesadaran itu.
Kesadaran akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana manusia melihat atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan buruk. Disitulah membedakan halal dan haram, hak dan bathil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun dia bisa melakukan. Itulah hal yang khusus manusiawi. Dalam dunia hewan tidak ada hal yang baik dan buruk atau patut tidak patut, karena hanya manusialah yang mengerti dirinya sendiri, hanya manusialah yang sebagai subjek menginsafi bahwa dia berhadapan pada perbuatannya itu, sebelum, selama dan sesudah pekerjaan itu dilakukan. Sehingga sebagai subjek yang mengalami perbuatannya dia bisa dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya itu.
1.2 Permasalahan
Dalam makalah yang berjudul “Etika, Moral dan Akhlak” ini memiliki beberapa rumusan :
1. Bagaimana kosep Etika, Moral dan Akhlak?
2. Bagaimana korelasi antara akhlak dan ajaran Tasawuf?
3. Bagaimana cara mengaktualisasikan Akhlak dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim?
4. Indikator apa saja yang dapat menunjukan bahwa seorang manusia dikatakan telah memiliki akhlak?
5. Mengapa perlu aktualisasi akhlak dalam kehidupan?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah “Etika, Moral dan Akhlak ini antara lain adalah sebagai berikut :
1. Memberikan gambaran tentang konsep fundamental dalam Etika, Moral dan Akhlak.
2. Memberikan penjelasan tentang karakteristik akhlak dan ajaran Tasawuf.
3. Memberikan gambaran tentang cara aktualisasi akhlak dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim.
4. Menjelaskan arti pentingnya aktualisasi akhlak dan indicator bahwa seorang manusia dikatakan telah berakhlak.

BAB II
ISI

2.1 Konsep Moral, Etika dan Akhlak
Dalam berbagai literature tentang ilmu akhlak islami, dijumpai uraian tentang akhlak yang secara garis besar dapat dibagi dua bagia, yaitu; akhlak yang baik (akhlak al-karimah), dan akhlak yang buruk (akhlak madzmumah). Berbuat adil, jujur, sabar, pemaaf, dermawan dan amanah misalnya termasuk dalam akhlak yang baik. Sedangkan berbuat yang dhalim, berdusta, pemarah, pendendam, kikir dan curang termasuk dalam akhlak yang buruk.
Secara teoritis macam-macam akhlak tersebut berinduk pada tiga perbuatan yang utama, yaitu hikmah (bijaksana), syaja’ah (perwira/ksatria) dan iffah (menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat).
Hukum-hukum akhlak ialah hokum-hukum yang bersangkut paut dengan perbaikan jiwa (moral); menerangkan sifat-sifat yang terpuji atau keutamaan-keutamaan yang harus dijadikan perhiasan atau perisai diri seseorang seperti jujur, adil, terpercaya, dan sifat-sifat yang tercela yang harus dijauhi oleh seseorang seperti bohong, dzalim, khianat. Sifat-sifat tersebut diterangkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dan secara Khusus dipelajari dalam Ilmu Akhlak (etika) dan Ilmu Tasawuf.
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistic (kebahasaan), dan pendekatan terminologik (peristilahan).
Dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa arab, yaitu isim mashdar (bentuk infinitive) dari kata al-akhlaka, yukhliqu, ikhlaqan, sesuai timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala, yuf’ilu if’alan yang berarti al-sajiyah (perangai), at-thobi’ah (kelakuan, tabiat, watak dasar), al-adat (kebiasaan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik) dan al-din (agama).
Namun akar kata akhlak dari akhlaka sebagai mana tersebut diatas tampaknya kurang pas, sebab isim masdar dari kata akhlaka bukan akhlak, tetapi ikhlak. Berkenaan dengan ini, maka timbul pendapat yang mengatakan bahwa secara linguistic, akhlak merupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar kata, melainkan kata tersebut memang sudah demikian adanya.
Untuk menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah, kita dapat merujuk kepada berbagai pendapat para pakar di bidang ini. Ibn Miskawaih (w. 421 H/1030 M) yang selanjutnya dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka dan terdahulu misalnya secara singkat mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Sementara itu, Imam Al-Ghazali (1015-1111 M) yang selanjutnya dikenal sebagai hujjatul Islam (pembela Islam), karena kepiawaiannya dalam membela Islam dari berbagai paham yang dianggap menyesatkan, dengan agak lebih luas dari Ibn Miskawaih, mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gambling dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan
Definisi-definisi akhlak tersebut secara subtansial tampak saling melengkapi, dan darinya kita dapat melihat lima cirri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu; pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiaannya. Kedua, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Ini tidak berarti bahwa saat melakukan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur atau gila. Ketiga, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. Keempat, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara. Kelima, sejalan dengan cirri yang keempat perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian.
Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang azaz-azaz akhlak (moral). Dari pengertian kebahsaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia.
Adapun arti etika dari segi istilah, telah dikemukakan para ahli dengan ungkapan yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandangnya. Menurut ahmad amin mengartikan etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
Berikutnya, dalam encyclopedia Britanica, etika dinyatakan sebagai filsafat moral, yaitu studi yang sitematik mengenai sifat dasar dari konsep-konsep nilai baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya.
Dari definisi etika tersebut diatas, dapat segera diketahui bahwa etika berhubungan dengan empat hal sebagai berikut. Pertama, dilihat dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Kedua dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat. Sebagai hasil pemikiran, maka etika tidak bersifat mutlak, absolute dan tidak pula universal. Ia terbatas, dapat berubah, memiliki kekurangan, kelebihan dan sebagainya. Selain itu, etika juga memanfaatkan berbagai ilmu yang memebahas perilaku manusia seperti ilmu antropologi, psikologi, sosiologi, ilmu politik, ilmu ekonomi dan sebagainya. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya. Dengan demikian etika lebih berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh manusia. Etika lebih mengacu kepada pengkajian sistem nilai-nilai yang ada. Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relative yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman.
Dengan cirri-cirinya yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatan baik atau buruk. Berbagai pemikiran yang dikemukakan para filosof barat mengenai perbuatan baik atau buruk dapat dikelompokkan kepada pemikiran etika, karena berasal dari hasil berfikir. Dengan demikian etika sifatnya humanistis dan antroposentris yakni bersifat pada pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.
Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adapt kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatan bahwa moral adalah pennetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.
Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.
Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah.
Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan lainnya, kita dapat mengetakan bahwa antara etika dan moral memiki objek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau buruk. Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki perbedaan. Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan moral tolak ukurnya yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di masyarakat. Dengan demikian etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam konsep-konsep, sedangkan etika berada dalam dataran realitas dan muncul dalam tingkah laku yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam moral untuk mengukur tingkah laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan dan lainnya yang berlaku di masyarakat. Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian system nilai yang ada.
Kesadaran moral erta pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam bahasa asing disebut conscience, conscientia, gewissen, geweten, dan bahasa arab disebut dengan qalb, fu’ad. Dalam kesadaran moral mencakup tiga hal. Pertama, perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral. Kedua, kesadaran moral dapat juga berwujud rasional dan objektif, yaitu suatu perbuatan yang secara umumk dapat diterima oleh masyarakat, sebagai hal yang objektif dan dapat diberlakukan secara universal, artinya dapat disetujui berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap orang yang berada dalam situasi yang sejenis. Ketiga, kesadaran moral dapat pula muncul dalam bentuk kebebasan.
Berdasarkan pada uraian diatas, dapat sampai pada suatu kesimpulan, bahwa moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau system hidup yang dilaksanakan atau diberlakukan oleh masyarakat. Nilai atau sitem hidup tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai yang akan memberikan harapan munculnya kebahagiaan dan ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang berkaitan dengan perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kebebasan. Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka akan membentuk kesadaran moralnya sendiri. Orang yang demikian akan dengan mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada dorongan atau paksaan dari luar. Dengan demikian akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah-daging dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran Islam. Dilihat dari segi sifatnya yang universal, maka akhlak Islami juga bersifat universal. Namun dalam rangka menjabarkan akhlak islami yang universal ini diperlukan bantuan pemikiran akal manusia dan kesempatan social yang terkandung dalam ajaran etika dan moral. Dengan kata lain akhlak Islami adalah akhlak yang disamping mengakui adanya nilai-nilai universal sebagai dasar bentuk akhlak, juga mengakui nilai-nilai bersifat local dan temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai yang universal itu. Namun demikian, perlu dipertegas disini, bahwa akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika atau moral, walaupun etika dan moral itu diperlukan dalam rangka menjabarkan akhlak yang berdasarkan agama (akhlak Islami). Hal yang demikian disebabkan karena etika terbatas pada sopan santun antara sesame manusia saja, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah. Jadi ketika etika digunakan untuk menjabarkan akhlak Islami, itu tidak berarti akhlak Islami dapat dijabarkan sepenuhnya oleh etika atau moral. Perbedaaan antara etika, moral, dan susila dengan akhlak adalah terletak pada sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk. Jika dalam etika penilaian baik buruk berdasarkan pendapat akal pikiran, dan pada moral dan susila berdasarkan kebiasaan yang berlaku umum di masyarakat, maka pada akhlak ukuran yang digunakan untuk menentukan baik buruk itu adalah al-qur’an dan al-hadis. Perbedaan lain antara etika, moral dan susila terlihat pula pada sifat dan kawasan pembahasannya. Jika etika lebih banyak bersifat teoritis, maka pada moral dan susila lebih banyak bersifat praktis. Etika memandang tingkah laku manusia secara umum, sedangkan moral dan susila bersifat local dan individual. Etika menjelaskan ukuran baik-buruk, sedangkan moral dan susila menyatakan ukuran tersebut dalam bentuk perbuatan. Namun demikian etika, moral, susila dan akhlak tetap saling berhubungan dan membutuhkan. Uraian tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa etika, moral dan susila berasala dari produk rasio dan budaya masyarakat yang secara selektif diakui sebagai yang bermanfaat dan baik bagi kelangsungan hidup manusia. Sementara akhlak berasal dari wahyu, yakni ketentuan yang berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan Hadis. Dengan kata lain jika etika, moral dan susila berasal dari manusia sedangkan akhlak berasal dari Tuhan.

2.2 Hubungan Tasawuf dengan Akhlak
Pandangan paling monumental tentang Tasawuf muncul dari Abul Qasim Al-Qusyairy an-Naisabury, seorang ulama sufi abad ke-4 hijriyah. Al-Qusyairy sebenarnya lebih menyimpulkan dari seluruh pandangan Ulama Sufi sebelumnya, sekaligus menepis bahwa Tasawuf atau Sufi muncul dari akar-akar historis, bahasa, intelektual dan filsafat di luar Islam.Dalam buku Ar-Risalatul Qusyairiyah ia menegaskan bahwa kesalahpahaman banyak orang terhadap tasawuf semata-mata karena ketidaktahuan mereka terhadap hakikat Tasawuf itu sendiri. Menurutnya Tasawuf merupakan bentuk amaliyah, ruh, rasa dan pekerti dalam Islam itu sendiri. Ruhnya adalah firman Allahswt:
* “Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.”(QS.Asy-Syams:7-8)
* ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri dan dia mendzikirkan nama Tuhannya lalu dia shalat.” (QS. Al-A’laa: 14-15)
Berdasarkan pandangan para Sufi itulah akhirnya Al-Qusayiry menyimpulkan bahwa Sufi dan Tasawuf memiliki terminologi tersendiri, sama sekali tidak berawal dari etimologi, karena standar gramatika Arab untuk akar kata tersebut gagal membuktikannya. Alhasil, dari seluruh definisi itu, semuanya membuktikan adanya adab hubungan antara hamba dengan Allah swt dan hubungan antara hamba dengan sesamanya. Dengan kata lain, Tasawuf merupakan wujud cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya, pengakuan diri akan haknya sebagai hama dan haknya terhadap sesama di dalam amal kehidupan.
Tasawuf adalah proses pendekatan diri pada tuhan dengan cara mensucikan hati sesuci-sucinya.Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk.Jadi kaitan/hubungan tasawuf dengan akhlak yaitu bahwa orang yang suci hatinya akan tercermin dalam air muka dan perilakunya yang baik.
2.3 Aktualisasi Akhlak
Dalam kehidupan, akhlak memegang peranan yang sangat besar. Akhlak berhubungan erat dengan setiap perbuatan manusia yang diukur dengan wahyu apakah suatu perbuatan dapat dikatakan baik atau buruk. Dalam akhlak ada nilai dasar apakah perbuatan itu baik atau buruk. Akhlak mengandung pengertian perbuatan yang timbul melalui sebuah ikhtiar dan kesengajaan. Perbuatan itu meski diketahui waktu ia melakukan apa yang ia perbuat. Akhlak pada dasarnya menjelaskan kata antara baik dan buruk. Dalam akhlak juga menerangkan tujuan yang hendak dicapai dari perbuatan manusia. Selanjutnya akhlak juga membicarakan tentang jalan ataupun proses yang dilalui oleh manusia untuk mencapai tujuannya.
Dalam kehidupan yang serba modern sekarang tentu banyak kepentingan yang ada dalam anggota masyarakat. Mewujudkan masyarakat yang harmonis memerlukan aturan-aturan yang bersifat universal yang dapat dipertanggungjawabkan secara Ilahi dan kemanusiaan. Dengan kata lain, aturan tersebut haruslah sesuai dengan tuntutan zaman yang ada dan sesuai dengan akidah agama. Di sinilah letak urgensi pendidikan akhlak yaitu dalam merumuskan pendidikan agar selalu berada dalam jalur yang benar dan selalu dalam orientasi yang lebih baik. Selanjutnya dalam masa yang serba modern ini maka urgensi pendidikan akhlak yang terpenting adalah bagaimana mewujudkan masyarakat yang madani.
Masyarakat modern tentunya mempunyai tantangan yang lebih kompleks, untuk itulah pendidikan akhlak sangat penting dan diharapkan dapat menjadi sarana pembentukan kepribadian manusia. Dengan demikian urgensi pertama dan utama pendidikan akhlak adalah membentuk pribadi yang berakhlak. Pembentukan pribadi yang berakhlak tidaklah terlepas dari tujuan pendidikan Islam. Pendidikan Islam itu sendiri bertujuan membentuk insan kamil yang tentunya sifat dan sikapnya selalu mencerminkan pribadi muslim.
Pembentukan pribadi muslim yang berakhlak mencakup aspek jasmaniah dan ruhaniah. Keduanya merupakan target pembentukan pribadi yang berakhlak. Pengaruh modernisasi dan industrialisasi sebagai dampak dari era globalisasi diharapkan dapat dinetralisasi dengan tetap mempertahankan akhlakul karimah dalam kehidupan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Pendidikan akhlak dalam era globalisasi sangatlah menentukan. Di saat pendidikan sekarang ini yang semakin sekuler dan materialis sehingga nilai-nilai akhlak dan moralitas bermasyarakat dalam erosi yang sangat besar. Manusia cenderung hanya mengejar tuntutan materi saja dan hal ini membawa manusia pada situasi yang dilematis, manusia telah kehilangan nilai kemanusiaan. Manusia telah menjadi mesin kehidupan yang harganya bisa diukur dengan uang atau benda lainnya. Di sini terlihat urgensi pendidikan akhlak agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya dan selanjutnya terwujud sebuah masyarakat yang madani.
2.4 Indikator Manusia Berakhlak
Seorang muslim yang telah mampu mengapliksikan dan mengaktualisasikan akhlak dalam kehidupan pada umumnya memiliki ciri pada setiap perbuatan yang dilakukan selalu bernafaskan ajaran Islam. Secara general seorang muslim yang dikatakan berakhlak dapat dilihat dari beberapa hal antara lain:
• Akhlak telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribadiannya.
• Akhlak telah diterapkan dengan mudah tanpa melalui proses berpikir yang panjang.
• Akhlak timbul dari kesadaran dari orang tersebut tanpa ada paksaan dan tekanan.
• Akhlak tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas

2.5 Akhlak dan Aktualisasinya dalam Kehidupan
Akhlak dalam pengaplikasiannya dalam kehidupan memilii ruang lingkup yang bersifat universal. Dalam proses pengaplikasiaannya akhlak secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam tiga ruang lingkup, yakni dalam bidang social, bidang pendidikan, dan bidand dakwah. Dalam bidang social ada lima program reinterprestasi yaitu pertama perlunya dikembangkan penafsiran sosial struktral lebih dari pada penafsiran individual ketika memahami ketentuan tertentu Didalam Al Qur’an. Kedua mengubah cara berfikir subyektif kearah berfikir obyektif. Ketiga mengubah cara yang normatif menjadi yang teoristis. Keempat mengubah pemahaman yang ahistoris menjadi historis dan yang terakhir adalah bagaimana memformulasikan wahyu yang bersifat umum kearah yang lebih spesifik dan empiris. Dari kelima hal di atas tentunya dapat dapat diharapkan peran ahklaq yang lebih mengakar di tengah-tengah gejolak kehidupan dewasa ini.
Dalam bidang pendidikan aktualisasi akhlak dapat dilakukan dengan mengoptimalisasikan peraan lembaga pendidikan. Lembaga Islam hendaknya lebih mandiri dan modern dengan kurikulum yang jelas dan terencana. Sehingga melahirkan kader-kader yang mempunyai integritas yang tinggi tentang Islam, tidak statis dan tidak tradisional dan tidak pula menjadi sekuler. Masjid sebagai tempat pembinaan Ahklaq hendaknya menjadi pusat pengembangan dan penyusunan strategi sosial lainnya. Masjid meski menjalankan fungsinya sebagai wadah generasi muda di dalam mempersiapkan potensi dan kemampuannya. Generasi muda harusnya terbiasa dengan kegiatan yang bermula dari masjid. Rutinitas kegiatan sholat saja hendaknya diisi dengan kegiatan lain yang akan mendorong umat untuk mencintai masjid. Taman-taman pengajian TPA dan TKA meski kita dukung dan kita masyarakatan sebagai bagian dari masyarakat dan taman-taman pengajian lainnya. Model pesantren memang mempunyai segi positif dan negatif. Pendidikan pesantren misalnya terbiasa dengan kontrol yang lebih mudah dan mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang beraklakul karimah.
Kita sama-sama mengharapkan sebuah sistem Pendidikan yang ada beserta komponen yang ada di dalamnya secara matang sesuai dengan kebutuhan masa depan dan memiliki kompetensi dalam penyelenggaraan pendidikan, serta mampu menjalankan amanat pendidikan Islam dalam proses belajar mengajar secara sempurna. Pemberdayaan kampus sebagai lembaga yang berahklak perlu kita dukung dengan semaksimal mungkin. Kampus sebagai lembaga yang mampu mencetak generasi bangsa dan umat
terutama sekolah tinggi agama Islam hendaknya mampu memberikan contoh dan solusi akan model pendidikan yang Islami. Dengan banyaknya unit-unit kajian di kampus hendaknya sama-sama mendapat dukungan dari semua pihak terutama petinggi kampus. Kegairahan dalam mengkaji masalah keagamaan hendaknya dipahami oleh penguasa kampus dan memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepada mahasisiwa. Adanya kecenderungan rasionalitas yang kadang membawa kepada sikap sekularis perlu diantisipasi. Oleh karena itu, perlu pedekatan yang lebih efektif dengan mengutamakan kebebasan dalam pemikiran dan kreasi dari pada sebuah doktinisasi. Diharapkan sekolah tinggi agama Islam dan semacamnya mampu mencetak generasi yang mempunyai ahklaq yang tinggi di samping keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak dapat disangkal bahwa masih banyak mahasiswa perguruan tinggi Islam yang belum menjalankan syariat dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, pendidikan ahklaq bagi mahasiswa perlu terus dikuatkan karena mahasiswa adalah generasi muda potensial dan strategis.
Dakwah adalah sarana yang biasa dilakukan oleh para dai maupun oleh para kaum muslimin. Dalam dakwah terjadi interaksi dan komunikasi antara banyak komponen masyarakat yang ada, baik ulama, pemerintah, umat, dan hartawan serta kaum cendekiawan lainnya. Dakwah adalahmedia komunikasi yang bertujuan menumbuhkan kesadaran pada umat. Dengan adanya dakwahdapat terjadi reformasi bahkan revolusi sosial yang pada dasarnya berusaha meningkatkan kualitasdiri pribadi dan kemajuan bersama.
BAB III
PENUTUP

1.1 Saran dan Rekomendasi
Etika dalam islam adalah sebagai perangkat nilai yang tidak terhingga dan agung yang bukan saja beriskan sikap, prilaku secara normative, yaitu dalam bentuk hubungan manusia dengan tuhan (iman), melainkan wujud dari hubungan manusia terhadap Tuhan, Manusia dan alam semesta dari sudut pandang historisitas. Etika sebagai fitrah akan sangat tergantung pada pemahaman dan pengalaman keberagamaan seseorang. Oleh karena itu kami memberikan beberapa saran dan rekomendasi dalam upaya mewujudkan perilaku seorang muslim yang bernafaskan ajaran islam:
• Seorang muslim harus selalu menjunjung etika sebagai fitrah dengan menghadirkan kedamaian, kejujuran, dan keadilan.
• Menjadikan nabi Muhammad sebagai panutan dan contoh dalam setiap aktivitas sehari-hari.
• Berusah mewujudkan konsep iman, islam dan ihsan secara kontinyu.
• Seorang muslim harus selalu menjaga hubungan baik secara proporsional dalam implementasi hubungan dengan Allah, sesama manusia dan sesama mahluk mahluk Allah.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: